Rasa Malu Seorang Muslimah


Saya tergerak menuliskan tentang malu setelah membaca Riyadhus Shalihin, yang tulisan ini saya  khususkan untuk para wanita. Bismillah
Parasmu nan cantik bagi setiap yang memandang. Matamu yang elok, indah memancarkan isi hati. Engkau selalu cantik wahai para wanita muslimah. Jangan nodai kecantikanmu dengan kau lupa bahwa malu adalah sebagian dari iman.
Kita hidup dalam ranah publik. Dimana tingkah laku kita banyak yang melihat dan menilai. Sedikit saja kita melakukan perbuatan tercela, tidak sedikit banyak yang mencibir dan mengomentari. Kau bisa apa dengan cibiran mereka? Marah? Kesal? Tidak, seharusnya kau tidak begitu.
Coba kau introspeksi diri. Mungkin ada yang salah dengan perilakumu. Misal saja, kau dengan mudah bercengkrama dengan para lelaki. Bercanda riang bahkan sambil tertawa lebar terbahak-bahak. Bahkan sampai kontak fisik sebut saja bersenderan di tubuhnya atau bersentuhan tangan. Atau kau tanpa sadar melakukan perbuatan tercela lainnya. 
Kau lupa dengan yang kau kenakan? Iya, jilbab dan pakaian yang menutupi tubuhmu namun akhlakmu tapi tak kau hias dengan baik. Kau memilih pakaian terbaik yang kau kenakan untuk menutupi tubuhmu tapi mengapa tak kau pilih juga akhlak terbaik untuk sikapmu?
Pemandangan yang terkesan biasa itulah yang menghancurkan akhlakmu. Jangan kau ikuti..Kau pasti sering mendengar seperti ini, “Lah, dia berjilbab tapi kelakuannya seperti itu. Berarti kami bisa juga dong”.
Kau merasa terbebani? Pasti.
Mengapa? Karena kau membawa amanah dengan pakaianmu, dengan jilbabmu. Bahwa kau harus menjadi agen muslimah yang baik.
Bukan salahkan jilbabnya, salahkan dirimu sendiri karena tidak dapat menjaga akhlakmu dengan baik di hadapan oranglain.
Kita, makhluk Allah. Sudah ada aturan-aturan dalam bersikap juga berprilaku. Kau mungkin menyadarinya, namun kesadaranmu tertutupi dengan mengikuti hawa nafsu serta bisikan setan. Apa kau lupa dengan salah satu hadist yang menyebutkan bahwa:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لاِبْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ
Sesungguhnya setan selalu berupaya menggoda anak cucu Adam dengan berbagai macam cara”. (HR. An Nasa’i 3134, dishahihkan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i)
Jangan suka tertipu dengan perkataan manusia yang terkesan baik namun menyelipkan kesesatan. Perkataan terbaik adalah perkataan Allah. Ikutilah, maka kau tidak akan tersesat.
Sudah jauh kau berjalan, mengapa malu kau tinggalkan?
Saat kau menyadari salahmu, “Aku malu melakukan hal seperti itu”.
Maka beruntunglah karena Allah masih menegur hatimu. Memberikan cahaya-Nya.
Tetapi saat kau katakan itu, lalu temanmu membalas, “ngapain malu? udah biasa kaliii.” Tutup telingamu jika mendengar kata-kata seperti ini. Jangan kau ikuti. 
Dari Ibnu Umar r.a, bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam pernah menjumpai seorang laki-laki dari Anshar yang saat itu sedang menasihati saudaranya lantaran sikap malunya. Maka Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bersabda, “Biarkan dia, karena sesungguhnya malu adalah sebagian dari iman.” (Shahih Al-Bukhari, 24; Muslim, 36, Abu Dawud, 4795; At-Tirmidzi, 2618, An-Nasa’i, 8/121.
Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah.

NB: Tulisan ini pernah dipublish di duniajilbab.co.id dan dipublish kembali di blog pribadi penulis dengan beberapa gubahan.

Komentar

Postingan Populer