Sedang Tidak Ingin Membicarakan Cinta


Polemik perempuan paling membingungkan yaitu perasaan, 
Sering sekali bersebrangan dengan logika dan kebenaran yang ada.
Logika yang kadang tumpul dan perasaan yang hancur lebur 
sebab manusia diseberang sana sedang atraksi memainkan perasannya.
Nuraninya pilu, kadang tersentuh oleh bisikan-bisikan halus yang menyuruhnya memaklumi keadaan.
Lambat laun, gelembung-gelembung suara pun bertebaran tinggi 
Sampai ke ujung langit, ada yang hancur diudara.
Hatinya sudah sampai dibibir sungai siap untuk menyebrang.
 Tiba-tiba sepucuk daun yang gugur bertuliskan perihal tentangnya.
Tentangnya yang membingungkan, 
Kata yang sering sekali tidak sewarna dengan perilakunya.
Haruskah perempuan itu melanjutkan perjalannya? Atau menunggu di bibir sungai?


Kayuhannya sudah sampai seperempat jalan sungai. 
Perempuan itu bertanya dalam hati sepanjang perjalanannya.
“Kalaupun tidak cinta, mengapa diam-diam selalu mencari tahu tentangku ?”
“Kalaupun tidak cinta, mengapa setelah gelembung suara itu bertebaran,
 ia mencari tahu tentangku?”
“Kalaupun ia cinta, mengapa tidak jujur saja. 
Sudah pun ia jujur, mengapa ia juga sering 
melihat beranda kata-kata ku?”
“Kalaupun tidak cinta, 
mengapa masih ingat tutur yang aku ucapkan?”


Perempuan yang tegar itu lelah. Sudah mengayuh terlalu jauh. 
Hingga terlelap dalam tidurnya sembari berujar, 
“Tuhan, Aku tidak ingin membicarakan cinta lagi”.

Komentar

Postingan Populer